
Sudan: Warisan Sejarah yang Terluka
Sudan, negeri yang dahulu di zaman Rasulullah merupakan bagian dari kerajaan Nasary dan Mesir, kini terpuruk dalam nestapa. Konflik bersenjata sesama anak bangsa mengoyak-ngoyak persatuan, meninggalkan luka yang dalam di bumi yang pernah jaya. Darah tertumpah, air mata mengalir, dan masa depan suram menghantui negeri yang seharusnya damai.
Stigmatisasi: Rekayasa Zionis-AS untuk Menghancurkan Sudan
Konflik ini bukanlah peristiwa alam, melainkan hasil setting kepentingan regional, khususnya Zionis Israel dan Amerika Serikat. Mereka menuduh Sudan sebagai “wilayah subur pencetak terorisme” di era Omar al-Bashir. Tuduhan ini adalah stigmatisasi yang sengaja dibangun, karena Sudan di bawah al-Bashir berani berkolaborasi dengan Iran dan Hamas, membentuk poros perlawanan terhadap hegemoni Zionis.
Kudeta 2019: Awal Era Konflik Baru yang Didesain
Setelah berhasil menciptakan kondisi yang diinginkan, Zionis merangkul kekuatan lokal untuk menggulingkan Omar al-Bashir pada 2019. Sudan pun memasuki fase konflik baru yang kompleks:
· Koalisi Sipil yang didukung AS dengan kampanye demokratisasi palsu.
· Angkatan Bersenjata yang terpecah antara loyalitas dan ambisi.
· Milisi RFS yang digerakkan oleh kepentingan ekonomi.
Konflik segitiga ini sengaja dipelihara karena secara umum menguntungkan Zionis Israel, yang ingin melihat Sudan lemah dan terfragmentasi.
Normalisasi: Pengkhianatan demi Pencabutan Stigma “Negara Teroris”
Rezim militer yang berkuasa setelah al-Bashir sampai harus melakukan normalisasi hubungan dengan Israel, hanya untuk dicabut status “negara teroris” yang diberikan AS. Langkah ini adalah bukti betapa tekanan Zionis berhasil memaksa Sudan mengorbankan kedaulatan dan harga diri.
Perang Proxy: Intervensi Asing dan Tanda Zaman
Lambat laun, Rusia masuk melalui milisi Wagner yang mendukung RFS. Konflik Sudan pun semakin jelas sebagai perang proxy antara adidaya. Namun, yang terpenting adalah mengingat kebenaran sabda Nabi Muhammad: bangsa Arab akan celaka karena intervensi Ya’juj wa Ma’juj. Konflik Sudan adalah cermin dari nubuat itu, di mana kekuatan asing menghancurkan persatuan umat dari dalam.
Penutup
Sudan adalah korban dari permainan global yang keji. Nestapanya adalah peringatan bagi seluruh umat Muslim untuk bersatu, waspada, dan tidak terjebak dalam skema pecah belah yang didesain Zionis dan sekutunya. Hanya dengan kembali kepada ajaran Islam yang murni dan persaudaraan sejati, nestapa seperti ini dapat diakhiri.
Wallahu A’lam
